Selamat Datang di Toko Online Kami, Menyediakan Berbagai Macam Batu Permata, Batu Mulia Berkualitas

Khusus Tanggal 23 - 31 Oktober 2014, Diskon 30% Di Setiap Pembelian Batu Permata di Kerajaanbatu.Com

Tampilkan posting dengan label artikel. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label artikel. Tampilkan semua posting

Doktrin Origin By Nugroho, SE.AJP.GG ( GIA )

Doktrin Origin By Nugroho, SE.AJP.GG ( GIA )

Doktrin Origin By Nugroho, SE.AJP.GG ( GIA )

Salah satu sisi yang menarik dari BATU PERMATA adalah darimana batuan tersebut berasal, atau disebut country of origin. Meskipun jelas-jelas hal tersebut diluar penentuan kualitas, namun pasar menganggap bahwa asal negara juga penting untuk diketahui dan mencerminkan kualitas. Disini saya akan menjelaskan aspek-aspek , kriteria dan kondisi penentuan origin yang nantinya akan bisa menjawab seberapa penting origin dan juga kondisi yang terjadi sekarang di pasar batuan di Indonesia. Studi mengenai origin batuan dipelopori oleh Edward J. Gubelin ( Pendiri Gubelin Gem Lab ). Dengan dedikasi tinggi dia mengumpulkan ribuan sampel batuan langsung dari tambang-tambang di seluruh dunia dan mulai menginvestarisasikan aspek-aspek ilmiah yang membedakannya. Meskipun masih sebatas perbedaan karakter mikroskopik dan fitur inklusi, karena peralatan pada zaman itu belum terlalu canggih.  Gubelin mulai mencantumkan origin di sertifikat pada tahun 1950-an. Hal inilah yang kemudian memicu pasar akan pentingnya origin sebagai salah satu yang mempengaruhi nilai pada batu permata. Semenjak itu istilah-istilah seperti Burma, Khasmir dan Ceylon ( untuk spesies batu corundum ) yang pada jaman itu mendominasi stok batu yang berkualitas di pasar, lantas mengemuka dan mempunyai gengsi tersendiri, dengan dibumbui aspek-aspek sentimental seperti nilai sejarah penggunaan batu-batuan oleh kaum raja dan bangsawan, romantisme budaya dan lokalitas, serta sedikit unsur mistis yang kemudian ikut dibungkus sebagai nilai tambah marketing batu mulia pada saat itu. Selanjutnya hal tersebut terwariskan turun temurun sampai sekarang dan menjadi doktrin bahwa batu mulia yang menyandang nama-nama tersebut adalah yang terbaik. Keniscayaan tersebut lantas susah untuk dihilangkan, meski adanya tambang-tambang baru seperti di Tanzania, atau Madagascar. Memang tidak ada yang patut disalahkan, namun yang penting adalah adanya pemahaman yang benar atau kondisi yang benar-benar terjadi. Untuk mempermudah pemahaman , tulisan ini akan tetap mewakilkan spesies Corundum, yaitu varies Ruby dan Sapphire. Pada dasarnya setiap tambang diseluruh Dunia lebih banyak menghasilkan batu dengan kualitas Low to Medium daripada High Quality. Tidak ada satu tambangpun yang menghasilkan kualitas tinggi dengan proporsi yang lebih banyak. Penemuan Sapphire berkualitas tinggi di Ilakaka, Madagaskar ternyata mampu membelalakan mata pasar dunia bahwa kualitasnya dari segi warna dan kejernihan tidak kalah dengan batuan serupa yang pernah ditemukan sebelumnya di tambang-tambang kuno. Di tambang tersebut juga ikut ditemukan batu-batu Sapphire dengan ukuran diatas rata-rata. Lantas apa doktrin Sapphire Kashmir dan Ceylon bisa tergeder?? Pada kenyataannya tidak. Pasar tetap teguh pada pendiriannya bahwa Saphire Kashmir dan Ceylon adalah yang terbaik. Dalam kasus ini, hal yang menyebabkan Madagasiian Sapphire bisa kalah adalah karena Madagaskar belum mempunyai nilai sejarah sebagai penghasil Corundum yang terbaik. Burma, Kashmir dan Ceylon sudah mendarah daging dengan segala aspek-aspek sentimental yang terlanjut menempel di batu dan dibenak pasar. Kurangnya referensi sampel ruby dan sapphire berkualitas tinggi di madagaskar juga ikut andil dalam hal ini. Pasar sekarang dijejali dengan Low Quality glass field ruby dan sapphire heated greenish blue dari madagaskar. Inilah yang membuat nama madagaskar sulit terangkat. Kasus serupa  juga bisa dianalogikan pada kasus handphone china, sampai sekarang hape china dianggap rapuh, mudah rusak, dan tidak bergengsi, apapun alasannya. Kenyataannya , hape china sekarang sudah semakin canggih dan mulai bisa diterima oleh segmen masyarakat tertentu. Fitur kecangihannyapun selalu mengikuti hape yang terkini, meskipun kadang-kadang tampilan fisik masih merujuk ke merk yang lebih terkenal. Disini kuncinya adalah pengayaan referensi. Seandainya pasar batu di Indonesia dibanjiri dengan Sapphire berkualitas dari madagaskar, maka lambat laun doktrin tersebut bisa luntur. Hal tersebut serupa terjadi pada Ruby. Pasar di Indonesia mulai menyadari bahwa Ruby dari Winza-Tanzania tidak boleh dilirik sebelah mata. Alih-alih memburu Ruby Burma yang semakin Langka, mereka mulai beralih ke Tanzania Ruby, meski mungkin dalam hati mereka menganggap bahwa Burmese Ruby sebagai yang terbaik. Monggo saja. Laboratorium gemologi sebagai pihak yang berwenang dalam penentuan origin dituntut untuk independen dalam strict dengan metode dan referensi ilmiah yang ada. Kompleksitas penentuan origin merupakan konsekuensi yang harus diikat, bukan saja terhadap0 disiplin keilmuan dan almameter, namun juga kepada pasar. Sebenarnya penentuan origin di Lab tidak sederhana. Diperlukan analisis terhadap inklusi, karakter, komposisi kimia, karakter spekstral, sifat-sifat optik ( khususnya Refractive Index dan Birefingence), karakter reaksi infra red dan reaksi luminescence. Sebagian besar metode terdebut adalah melihat yang tak kasat mata, sehingga diperlukan instrumen lab yang lumayan canggih seperti gemological microskope, refrakctometer, spektrophotometer, dan lain-lain. Dalam talkshow di event IGLO di Yogyakarta beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan beberapa pertanyaan menarik tentang origin, diantaranya : Mengapa percantuman origin oleh Sky Lab untuk batu chalcedony ( dikenal sebagai keladen ) yang jelas-jelas ditemukan di Pacitan tidak spsifik hingga menyebut "From Pacitan"? Satunya lagi , Mengapa SkyLab tidak bisa mengindentifikasi Sapphire yang ditemukan di Aceh sebagai Origin Indonesia ? Jawaban untuk kedua pertanyaan tersebut adalah bahwa pendekatan penentuan origin didasarkan atas serangkaian metode ilmiah yang merujuk kepada referensi yang ada. Metode itu didapatkan dari hasil riset on the spot ( langsung ke tambang ) , yang dilakukan oleh para ahli geologi dan gemologi yang kemudian dituangkan kedalam jurnal ilmiah dan diakui secara internasional sebagai metode rederensi untuk mencantumkan coutry of origin. Nah, atas dasar itulah gemologist bekerja. Hasil penentuan origin selanjutnya disematkan sebagai country of origin, dan bukan region of origin. Itupun masih kontroversional terkait dengan akurasinya. Saya biasanya hanya menuliskan origin Indonesia dalam sertifikat dan pemahaman kepada klien secara lisan bahwa pada umumnya batuan jenis tersebut ditemukan di daerah ini, dan daerah itu, misalnya. Kuantitas hasil sebuah batu dari sebuah tambang juga mempengaruhi ketersediaan sapphire dipasar. Pernahkah Anda mendengar bahwa Sapphire ditemukan juga di Colombia, Kenya, Laos, Tasmania, Slovakia, dan New Zelland? Meskipun jurnal ilmiah untuk itu sudah ada, namun karena kuantitas hasil tambangnya sangat minim, Sapphire tersebut tidak memberikan kontribusi banyak untuk perdagangan secara internasional. Sejal Lulus tahun dari GIA tahun 2003, perlu waktu 10 tahun untuk kemudian awal tahun 2013 saya memutuskan mencantumkan origin dalam gem report, setelah selama itu pula mengumpulkan dan menganalisi ribuan spesimen, mengikuti berbagai workshop, dan seminar gemologi , melengkapi peralatan dan melakukan simulasi. Selama itu pula saya menolak permintaan pasar untuk menetukan origin, karena bagi saya penentuan origin tidak semudah ketika kita membedakan siang dan malam, dan disisi lain juga harus dapat dipertanggingjawabkan. Meskipun saat ini tidak ada 1 Lab pun didunia yang berani menjamin akurasi 100% terhadap analisis origin, namun setidaknya kesimpulan origin tersebut telah didasarkan atas metode yang benar. Akhirnya Origin selayaknya tidak diposisikan sebagai aspek yang mempengaruhi kualitas karena memang tidak ada kaitannya. Selanjutnya siapapun Anda, Hobbyist, Collector, Seller, Atau Supplier, berhak mempunyai keyakinan terhadap kualitas batu secara keseluruhan tanpa menjadikan asal batunya sebagai penentu kualitas dan mulailah mengabarkan kondisi yang sebenarnya demi pasar yang ideal.
Sumber : Majalah IGS Edisi Januari 2014
ARTIKEL
Doktrin Origin By Nugroho, SE.AJP.GG ( GIA )

Doktrin Origin By Nugroho, SE.AJP.GG ( GIA )

Salah satu sisi yang menarik dari BATU PERMATA adalah darimana batuan tersebut berasal, atau disebut country of origin. Meskipun jelas-jelas hal tersebut diluar penentuan kualitas, namun pasar menganggap bahwa asal negara juga penting untuk diketahui dan mencerminkan kualitas. Disini saya akan menjelaskan aspek-aspek , kriteria dan kondisi penentuan origin yang nantinya akan bisa menjawab seberapa penting origin dan juga kondisi yang terjadi sekarang di pasar batuan di Indonesia. Studi mengenai origin batuan dipelopori oleh Edward J. Gubelin ( Pendiri Gubelin Gem Lab ). Dengan dedikasi tinggi dia mengumpulkan ribuan sampel batuan langsung dari tambang-tambang di seluruh dunia dan mulai menginvestarisasikan aspek-aspek ilmiah yang membedakannya. Meskipun masih sebatas perbedaan karakter mikroskopik dan fitur inklusi, karena peralatan pada zaman itu belum terlalu canggih.  Gubelin mulai mencantumkan origin di sertifikat pada tahun 1950-an. Hal inilah yang kemudian memicu pasar akan pentingnya origin sebagai salah satu yang mempengaruhi nilai pada batu permata. Semenjak itu istilah-istilah seperti Burma, Khasmir dan Ceylon ( untuk spesies batu corundum ) yang pada jaman itu mendominasi stok batu yang berkualitas di pasar, lantas mengemuka dan mempunyai gengsi tersendiri, dengan dibumbui aspek-aspek sentimental seperti nilai sejarah penggunaan batu-batuan oleh kaum raja dan bangsawan, romantisme budaya dan lokalitas, serta sedikit unsur mistis yang kemudian ikut dibungkus sebagai nilai tambah marketing batu mulia pada saat itu. Selanjutnya hal tersebut terwariskan turun temurun sampai sekarang dan menjadi doktrin bahwa batu mulia yang menyandang nama-nama tersebut adalah yang terbaik. Keniscayaan tersebut lantas susah untuk dihilangkan, meski adanya tambang-tambang baru seperti di Tanzania, atau Madagascar. Memang tidak ada yang patut disalahkan, namun yang penting adalah adanya pemahaman yang benar atau kondisi yang benar-benar terjadi. Untuk mempermudah pemahaman , tulisan ini akan tetap mewakilkan spesies Corundum, yaitu varies Ruby dan Sapphire. Pada dasarnya setiap tambang diseluruh Dunia lebih banyak menghasilkan batu dengan kualitas Low to Medium daripada High Quality. Tidak ada satu tambangpun yang menghasilkan kualitas tinggi dengan proporsi yang lebih banyak. Penemuan Sapphire berkualitas tinggi di Ilakaka, Madagaskar ternyata mampu membelalakan mata pasar dunia bahwa kualitasnya dari segi warna dan kejernihan tidak kalah dengan batuan serupa yang pernah ditemukan sebelumnya di tambang-tambang kuno. Di tambang tersebut juga ikut ditemukan batu-batu Sapphire dengan ukuran diatas rata-rata. Lantas apa doktrin Sapphire Kashmir dan Ceylon bisa tergeder?? Pada kenyataannya tidak. Pasar tetap teguh pada pendiriannya bahwa Saphire Kashmir dan Ceylon adalah yang terbaik. Dalam kasus ini, hal yang menyebabkan Madagasiian Sapphire bisa kalah adalah karena Madagaskar belum mempunyai nilai sejarah sebagai penghasil Corundum yang terbaik. Burma, Kashmir dan Ceylon sudah mendarah daging dengan segala aspek-aspek sentimental yang terlanjut menempel di batu dan dibenak pasar. Kurangnya referensi sampel ruby dan sapphire berkualitas tinggi di madagaskar juga ikut andil dalam hal ini. Pasar sekarang dijejali dengan Low Quality glass field ruby dan sapphire heated greenish blue dari madagaskar. Inilah yang membuat nama madagaskar sulit terangkat. Kasus serupa  juga bisa dianalogikan pada kasus handphone china, sampai sekarang hape china dianggap rapuh, mudah rusak, dan tidak bergengsi, apapun alasannya. Kenyataannya , hape china sekarang sudah semakin canggih dan mulai bisa diterima oleh segmen masyarakat tertentu. Fitur kecangihannyapun selalu mengikuti hape yang terkini, meskipun kadang-kadang tampilan fisik masih merujuk ke merk yang lebih terkenal. Disini kuncinya adalah pengayaan referensi. Seandainya pasar batu di Indonesia dibanjiri dengan Sapphire berkualitas dari madagaskar, maka lambat laun doktrin tersebut bisa luntur. Hal tersebut serupa terjadi pada Ruby. Pasar di Indonesia mulai menyadari bahwa Ruby dari Winza-Tanzania tidak boleh dilirik sebelah mata. Alih-alih memburu Ruby Burma yang semakin Langka, mereka mulai beralih ke Tanzania Ruby, meski mungkin dalam hati mereka menganggap bahwa Burmese Ruby sebagai yang terbaik. Monggo saja. Laboratorium gemologi sebagai pihak yang berwenang dalam penentuan origin dituntut untuk independen dalam strict dengan metode dan referensi ilmiah yang ada. Kompleksitas penentuan origin merupakan konsekuensi yang harus diikat, bukan saja terhadap0 disiplin keilmuan dan almameter, namun juga kepada pasar. Sebenarnya penentuan origin di Lab tidak sederhana. Diperlukan analisis terhadap inklusi, karakter, komposisi kimia, karakter spekstral, sifat-sifat optik ( khususnya Refractive Index dan Birefingence), karakter reaksi infra red dan reaksi luminescence. Sebagian besar metode terdebut adalah melihat yang tak kasat mata, sehingga diperlukan instrumen lab yang lumayan canggih seperti gemological microskope, refrakctometer, spektrophotometer, dan lain-lain. Dalam talkshow di event IGLO di Yogyakarta beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan beberapa pertanyaan menarik tentang origin, diantaranya : Mengapa percantuman origin oleh Sky Lab untuk batu chalcedony ( dikenal sebagai keladen ) yang jelas-jelas ditemukan di Pacitan tidak spsifik hingga menyebut "From Pacitan"? Satunya lagi , Mengapa SkyLab tidak bisa mengindentifikasi Sapphire yang ditemukan di Aceh sebagai Origin Indonesia ? Jawaban untuk kedua pertanyaan tersebut adalah bahwa pendekatan penentuan origin didasarkan atas serangkaian metode ilmiah yang merujuk kepada referensi yang ada. Metode itu didapatkan dari hasil riset on the spot ( langsung ke tambang ) , yang dilakukan oleh para ahli geologi dan gemologi yang kemudian dituangkan kedalam jurnal ilmiah dan diakui secara internasional sebagai metode rederensi untuk mencantumkan coutry of origin. Nah, atas dasar itulah gemologist bekerja. Hasil penentuan origin selanjutnya disematkan sebagai country of origin, dan bukan region of origin. Itupun masih kontroversional terkait dengan akurasinya. Saya biasanya hanya menuliskan origin Indonesia dalam sertifikat dan pemahaman kepada klien secara lisan bahwa pada umumnya batuan jenis tersebut ditemukan di daerah ini, dan daerah itu, misalnya. Kuantitas hasil sebuah batu dari sebuah tambang juga mempengaruhi ketersediaan sapphire dipasar. Pernahkah Anda mendengar bahwa Sapphire ditemukan juga di Colombia, Kenya, Laos, Tasmania, Slovakia, dan New Zelland? Meskipun jurnal ilmiah untuk itu sudah ada, namun karena kuantitas hasil tambangnya sangat minim, Sapphire tersebut tidak memberikan kontribusi banyak untuk perdagangan secara internasional. Sejal Lulus tahun dari GIA tahun 2003, perlu waktu 10 tahun untuk kemudian awal tahun 2013 saya memutuskan mencantumkan origin dalam gem report, setelah selama itu pula mengumpulkan dan menganalisi ribuan spesimen, mengikuti berbagai workshop, dan seminar gemologi , melengkapi peralatan dan melakukan simulasi. Selama itu pula saya menolak permintaan pasar untuk menetukan origin, karena bagi saya penentuan origin tidak semudah ketika kita membedakan siang dan malam, dan disisi lain juga harus dapat dipertanggingjawabkan. Meskipun saat ini tidak ada 1 Lab pun didunia yang berani menjamin akurasi 100% terhadap analisis origin, namun setidaknya kesimpulan origin tersebut telah didasarkan atas metode yang benar. Akhirnya Origin selayaknya tidak diposisikan sebagai aspek yang mempengaruhi kualitas karena memang tidak ada kaitannya. Selanjutnya siapapun Anda, Hobbyist, Collector, Seller, Atau Supplier, berhak mempunyai keyakinan terhadap kualitas batu secara keseluruhan tanpa menjadikan asal batunya sebagai penentu kualitas dan mulailah mengabarkan kondisi yang sebenarnya demi pasar yang ideal.
Sumber : Majalah IGS Edisi Januari 2014
ARTIKEL
Written by: Kerajaan Batu
Kerajaan Batu | Batu Permata | Batu Mulia | Batu Gambar, Updated at: 05.44
DETAIL SPESIFIKASI

Mengenal Batu Sungai Dareh di Lokasi Penambangannya

Mengenal Batu Sungai Dareh di Lokasi Penambangannya

Mengenal Batu Sungai Dareh di Lokasi Penambangannya

Batu Sungai Dareh adalah batu permata setengah mulia berwarna hijau muda, tembus cahaya dengan bercak-bercak berwarna hijau tua yang setelah diuji secara gemologi disimpulkan berupa mineral atau batu mulia jenis Idocrase / Idokras disebut juga sebagai batu mulia Vesuanite. Pamornya melejit sejak 2 tahun terakhir, khususnya setelah tersiar berita tentang adanya transasksi sebutir cincin senilai beberapa ratus juta rupiah yang konon dibeli oleh pemuka setempat untuk dipersembahkan kepada pemimpin negeri kita.
Sejauh ini tidak ada banyak orang yang tahu asal muasal batu Sungai Dareh tersebut. Saya pun memperkirakan bahwa batu tersebut berasal dari Sungai Dareh di perbatasan provinsi Jambi dan Sumatera Barat yang pernah saya survei sekitar 40 tahunan yang lalu. Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa pada 9-16 Juni 2012, saya dipercaya memimpin tim eksplorasi untuk menilai potensi kandungan emas di salah satu wilayah Kuasa Pertambangan di Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat. Pada kesempatan itulah terungkap bahwa Batu Sungai Dareh berasal suatu lokasi terpencil di Nagari Pasir Talang, Kecamatan Sungai Pagu, Kabupaten Solok Selatan, yang hutannya masih dihuni oleh macan, ular pyton, beruang, pacet dan lain-lain. Lokasi tepatnya dibukit Karang, di hulu anak cabang sungai kandi. Sehubungan dengan itulah maka masyarakat setempat termasuk bupati Solok Selatan kurang senang dengan batu sungai dareh karena temuannya di Sungai Kandi. Lokasi sungai kandi dapat dicapai dengan mobil dari Kota Padang ke jurusan Kota Padang Aro, ibu kota kabupaten Solok Selatan ( melewati kota muara labuh ), kemudian dilanjutkan ke lokasi bekas base-camp milik Perusahaan Kayu PT AMT ( Andalas Merapi Timber ), melalui jalan yang kurang bagus selama 2 jam.  Di sepanjang perjalanan terlihat beberapa lokasi penambangan emas dan besi. Base-camp PT AMT ini yang terletak ditepi Sungai Kandi dan kondisinya sudah sangat rusak, dijadikan tempat transit bagi penambang Idokras dan juga kami. Pecahan Idokras tampak berserakan di tanah sekitar base-camp. Dari lokasi inilah kami memulai kegiatan eksplorasi emas, antara lain berupa pendulangan pasir sungai di aliran Sungai Kandi didekat base-camp yang alhamdulilah berhasil mendapatkan beberapa butir emas kasar sampai sedang. Konsentrat dulangnya setelah diperiksa di Laboratorium ternyata mengandung 48% mineral magnetit dan 30% mineral Hematit dan Ilmenit. Sementara itu bongkahan batuan yang diambil dari lokasi ini mengandung unsur-unsur tembaga, seng, timah hitam, dan emas, masing-masing 48 gr/ton, 39 gr/ton, 30 gr/ ton, 2 gram / ton, dan 0,006 gr/ton.

Mengapa Batu Mulia Idocrase Mahal ???

Lokasi penambangan Idokras dapat dicapai dengan menggunakan trail seperti yang dilakukan oleh penambang, atau dengan jalan kaki sekitar 1-2 jam seperti yang kami lakukan. Kegiatan penambangan dimulai sekitar tahun 1985 di Lembah Lubuk Layang-Layang, di Kaki Bukit Karang. Dilembah ini terlihat bekas-bekas galian diantara bongkahan-bongkahan batuan berserakan yang merupakan bagian dari erosi dari batuan primer di kawasan Bukit Karang ( dikenal sebagai endapan kolovial ). Pada sekitar tahun 2011 , PT AMT membuka jalan hutan dengan ekskavator ke arah bukit Karang. Di sepanjang lintasannya terbongkar batuan ubahan jenis meta kuarsit dari Formasi Barisan berumur Parem atau 240-290 juta tahun yang diantaranya mengandung pecahan-pecahan batuan Idocrase.Di lokasi penambangan Bukit Karang terlihat bahwa Idokrasnya ditemukan terlihat urat-urat dalam rekahan-rekahan batuan meta kuarsit yang menurut penelitian geologi sebagai hasil dari kegiatan intrusi batuan Granit berumur kapur atau 63-138 juta tahun ( seperti halnya proses pembentukan emas primer didaerah ini ). Kwasan penambangannya sendiri sangat memprihatikan juga sangat membahayakan bagi para penambang yang pada saat itu berjumlah 30-50 orang.

 Idocrase  yang teramati dilokasi penambangan terdiri atas 2 jenis, yaitu idocrase massif yang tidak tembus cahaya dan yang berupa urat-urat tipis tembus cahaya sampai tarsnparent. Jenis yang pertama cukur berlimpah dan dibiarkan berserakan, sementara jenis yang kedua sangat langka dan tersembunyi di celah-celah sempih diantara batuan-batuan meta kuarsit dalam lobang-lobang penggalian. Hasil analisa kimia dari kedua jenis jenis Idokras diatas mengungkapkan adanya kandungan beberapa unsur logamn tembaga, timah hitam, seng, perak dan emas yang kadar kandungannya masing-masing 171 gr/ton, 124 gr/ton, 20 gr/ton, 5 gr/ton, 0,045 gr/ton. Secara gemologi , batu Idokras memiliki kekerasan 6,5 skala Mohs, berat jenis 3,46 dan indek refraksi sekitar 1,71 dengan pecahan konkoidal mirip pecahan gelas. Dari uraian singkat diatas diharapkan para gemslover dan kolektor dapat memahami mengapa harga batu mulia Idokras relatif tinggi dibandingkan harga batu permata setengah mulia lainnya. Selain corak warnanya yang langka , untuk mendapatkan di pertambangan tidak mudah dan sangat mengancam jiwa penambangnya. Satu hal yang barangkali perlu dipikirkan oleh Gems-Lovers adalah kemungkinan untuk mengadakan ekskursi ke Sungai Kandi. Selain pemandangan dan panorama yang sangat indah di sepanjang perjalanan Kota Padang ke Kota Padang Aro, kita juga dapat menyelingi ekskursi kita dengan mengunjungi lokasi penambangan besi, mangan, dan belajar mendulang emas di Sungai Kandi dan ikut berburu Idokras Mulia di Bukit Karang. Kalau gagal mendapatkannya, setidaknya kita dipastikan mendapatkan Idokras yang walaupun jenisnya daging tetapi cukup memadai untuk dijadikan mata cincin atau produk assesoris dan kerajinan lainnya. Semoga Bermanfaat :) Bandung, 23 Desember 2013 , Sujatmiko / Mang Okim
Sumber : Majalah IGS Edisi Januari 2014
ARTIKEL
Mengenal Batu Sungai Dareh di Lokasi Penambangannya

Mengenal Batu Sungai Dareh di Lokasi Penambangannya

Batu Sungai Dareh adalah batu permata setengah mulia berwarna hijau muda, tembus cahaya dengan bercak-bercak berwarna hijau tua yang setelah diuji secara gemologi disimpulkan berupa mineral atau batu mulia jenis Idocrase / Idokras disebut juga sebagai batu mulia Vesuanite. Pamornya melejit sejak 2 tahun terakhir, khususnya setelah tersiar berita tentang adanya transasksi sebutir cincin senilai beberapa ratus juta rupiah yang konon dibeli oleh pemuka setempat untuk dipersembahkan kepada pemimpin negeri kita.
Sejauh ini tidak ada banyak orang yang tahu asal muasal batu Sungai Dareh tersebut. Saya pun memperkirakan bahwa batu tersebut berasal dari Sungai Dareh di perbatasan provinsi Jambi dan Sumatera Barat yang pernah saya survei sekitar 40 tahunan yang lalu. Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa pada 9-16 Juni 2012, saya dipercaya memimpin tim eksplorasi untuk menilai potensi kandungan emas di salah satu wilayah Kuasa Pertambangan di Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat. Pada kesempatan itulah terungkap bahwa Batu Sungai Dareh berasal suatu lokasi terpencil di Nagari Pasir Talang, Kecamatan Sungai Pagu, Kabupaten Solok Selatan, yang hutannya masih dihuni oleh macan, ular pyton, beruang, pacet dan lain-lain. Lokasi tepatnya dibukit Karang, di hulu anak cabang sungai kandi. Sehubungan dengan itulah maka masyarakat setempat termasuk bupati Solok Selatan kurang senang dengan batu sungai dareh karena temuannya di Sungai Kandi. Lokasi sungai kandi dapat dicapai dengan mobil dari Kota Padang ke jurusan Kota Padang Aro, ibu kota kabupaten Solok Selatan ( melewati kota muara labuh ), kemudian dilanjutkan ke lokasi bekas base-camp milik Perusahaan Kayu PT AMT ( Andalas Merapi Timber ), melalui jalan yang kurang bagus selama 2 jam.  Di sepanjang perjalanan terlihat beberapa lokasi penambangan emas dan besi. Base-camp PT AMT ini yang terletak ditepi Sungai Kandi dan kondisinya sudah sangat rusak, dijadikan tempat transit bagi penambang Idokras dan juga kami. Pecahan Idokras tampak berserakan di tanah sekitar base-camp. Dari lokasi inilah kami memulai kegiatan eksplorasi emas, antara lain berupa pendulangan pasir sungai di aliran Sungai Kandi didekat base-camp yang alhamdulilah berhasil mendapatkan beberapa butir emas kasar sampai sedang. Konsentrat dulangnya setelah diperiksa di Laboratorium ternyata mengandung 48% mineral magnetit dan 30% mineral Hematit dan Ilmenit. Sementara itu bongkahan batuan yang diambil dari lokasi ini mengandung unsur-unsur tembaga, seng, timah hitam, dan emas, masing-masing 48 gr/ton, 39 gr/ton, 30 gr/ ton, 2 gram / ton, dan 0,006 gr/ton.

Mengapa Batu Mulia Idocrase Mahal ???

Lokasi penambangan Idokras dapat dicapai dengan menggunakan trail seperti yang dilakukan oleh penambang, atau dengan jalan kaki sekitar 1-2 jam seperti yang kami lakukan. Kegiatan penambangan dimulai sekitar tahun 1985 di Lembah Lubuk Layang-Layang, di Kaki Bukit Karang. Dilembah ini terlihat bekas-bekas galian diantara bongkahan-bongkahan batuan berserakan yang merupakan bagian dari erosi dari batuan primer di kawasan Bukit Karang ( dikenal sebagai endapan kolovial ). Pada sekitar tahun 2011 , PT AMT membuka jalan hutan dengan ekskavator ke arah bukit Karang. Di sepanjang lintasannya terbongkar batuan ubahan jenis meta kuarsit dari Formasi Barisan berumur Parem atau 240-290 juta tahun yang diantaranya mengandung pecahan-pecahan batuan Idocrase.Di lokasi penambangan Bukit Karang terlihat bahwa Idokrasnya ditemukan terlihat urat-urat dalam rekahan-rekahan batuan meta kuarsit yang menurut penelitian geologi sebagai hasil dari kegiatan intrusi batuan Granit berumur kapur atau 63-138 juta tahun ( seperti halnya proses pembentukan emas primer didaerah ini ). Kwasan penambangannya sendiri sangat memprihatikan juga sangat membahayakan bagi para penambang yang pada saat itu berjumlah 30-50 orang.

 Idocrase  yang teramati dilokasi penambangan terdiri atas 2 jenis, yaitu idocrase massif yang tidak tembus cahaya dan yang berupa urat-urat tipis tembus cahaya sampai tarsnparent. Jenis yang pertama cukur berlimpah dan dibiarkan berserakan, sementara jenis yang kedua sangat langka dan tersembunyi di celah-celah sempih diantara batuan-batuan meta kuarsit dalam lobang-lobang penggalian. Hasil analisa kimia dari kedua jenis jenis Idokras diatas mengungkapkan adanya kandungan beberapa unsur logamn tembaga, timah hitam, seng, perak dan emas yang kadar kandungannya masing-masing 171 gr/ton, 124 gr/ton, 20 gr/ton, 5 gr/ton, 0,045 gr/ton. Secara gemologi , batu Idokras memiliki kekerasan 6,5 skala Mohs, berat jenis 3,46 dan indek refraksi sekitar 1,71 dengan pecahan konkoidal mirip pecahan gelas. Dari uraian singkat diatas diharapkan para gemslover dan kolektor dapat memahami mengapa harga batu mulia Idokras relatif tinggi dibandingkan harga batu permata setengah mulia lainnya. Selain corak warnanya yang langka , untuk mendapatkan di pertambangan tidak mudah dan sangat mengancam jiwa penambangnya. Satu hal yang barangkali perlu dipikirkan oleh Gems-Lovers adalah kemungkinan untuk mengadakan ekskursi ke Sungai Kandi. Selain pemandangan dan panorama yang sangat indah di sepanjang perjalanan Kota Padang ke Kota Padang Aro, kita juga dapat menyelingi ekskursi kita dengan mengunjungi lokasi penambangan besi, mangan, dan belajar mendulang emas di Sungai Kandi dan ikut berburu Idokras Mulia di Bukit Karang. Kalau gagal mendapatkannya, setidaknya kita dipastikan mendapatkan Idokras yang walaupun jenisnya daging tetapi cukup memadai untuk dijadikan mata cincin atau produk assesoris dan kerajinan lainnya. Semoga Bermanfaat :) Bandung, 23 Desember 2013 , Sujatmiko / Mang Okim
Sumber : Majalah IGS Edisi Januari 2014
ARTIKEL
Written by: Kerajaan Batu
Kerajaan Batu | Batu Permata | Batu Mulia | Batu Gambar, Updated at: 07.15
DETAIL SPESIFIKASI

Dulu Giok Kandhi, Kini Terkenal Lumut Sungai Dareh

Dulu Giok Kandhi, Kini Terkenal Lumut Sungai Dareh

Dulu Giok Kandhi, Kini Terkenal Lumut Sungai Dareh

Popularitas batu lumut Sungai Dareh, Kabupaten Dharmasraya yang disebut juga sebagai Giok Sumatera terus meroket. Selain disebabkan keindahannya, kepopuleran batu lumut Sungai Dareh secara tidak langsung juga dipengaruhi.

Batu berwarna hijau lumut telah booming di dunia, apalagi kabarnya Presiden SBY memberikan cinderamata kepada Presiden Obama dengan Batu warna hijau itu. Lumut Sungai Dareh namanya sangat mendunia, tidak ada orang penggila batu tak tergila-gila mendapatkannya.
Fenomenal, tapi bagaimana asal muasal dari Lumut Sungai Dareh itu, 1970 batu itu sudah ditemui dan disebut orang di Solok Selatan sebagai Giok Kandi, dia didapat di Sungai Kandi, dan Bukit Puti Bungsu. Mungkin karena patahan dibawa arus sungai batu itu ditemukan pula di Sungai Dareh Dharmasraya. Karena kehebatan Pemerintah Dharmasraya, batu itu pun kini terkenal dan menjadi ikon penggila batu cincin denga Lumut Sungai Dareh. Tapi yakinlah, nama pasaran boleh mengalahkan asal batu ini, tapi lambat tapi pasti Giok Kandi akan mendunia pula.
Giok Sumatera ini telah beredar di pasaran sejak 50 tahun yang lalu. Dalam 5 tahun terakhir , namanya terus naik daun sehingga harga batu yang berasal dari Batanghari itu melambung. Kadangkala stok di pedagang juga kosong.
Terus melejitnya kepopuleran batu lumut sungai dareh ini juga tak lepas dari gencarnya promosi yang dilakukan pemkab Dharmasraya. Promosi itu dilakukan melalui pemberian cendera mata kepada tamu-tamu , mulai tamu dari Lingkungan Sumbar, provinsi lain, dan tamu-tamu dari Pemerintah Pusat dan mempromosikannya melalui pameran. Ditambah lagi karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Mendagri Gamawan Fauzi akhir-akhir ini turut memakai batu Lumut Sungai Dareh Ini di jari mereka sehingga penilaian masyarakat di pasaran naik drastis. Batu Permata atau batu akik merupakan suatu bentuk batu dari hasil kristalisasi dari beberapa mineral didalam perut atau inti bumi.. Dan biasanya batu permata atau batu akik ini mempunyai suatu kelebihan yaitu berupa aura atau Yoni . Sedangkan arti dari Yoni adalah daya metafisis yang terpancar. Yoni yang terdapat pada batu permata atau batu akik memang di anugrahkan oleh ALLAH, agar kita sebagai makhluk yang diciptakannya paling sempurna tidak tergantung pada benda-benda apapun termasuk batu permata atau akik. Karena pada hakikatnya semua kemampuan dan kekuatan berasal dari Allah. Salah satu pengrajin batu akik di pasaraya kota Padang, Bang Naga ( 41 ), di tokonya beberapa hari yang lalu mengisahkan, ia telah 25 tahun menggeluti usaha batu akik dan sekaligus memasarkannya ke berbagai daerah bahkan sampai ke malaysia. Pada acara-acara pergelaran dan pameran Bang Naga juga sering hadir mempromosikan giok sumatera ini. Batu Indah berwarna kehijauan ini menjadi target buruan para pecinta batu akik dari berbagai tempat. Tidak hanya dari dalam negeri, para kolektor batu cincin dari mancanegara pun memburu batu mulia jenis giok ini. Batu Sungai Dareh yang berasal dari Sungai Batanghari ini terkenal sebagai batu perhiasan berkualitas tinggi. Seperti batu perhiasan pada umumnya , batu lumuik merupakan olahan dari batu mentah yang diperoleh dari dasar sungai. Batu mentah ini kemudian dipotong, dibentuk menggunakan gerinda, dan terakhir dihaluskan. Batu yang telah dihaluskan tersebut lalu dipasangkan sebagai batu perhiasan pada cincin, kalung, gelang, dan sebagainya. Kualitas dan harga sebuah batu lumuik sungai dareh ditentukan pada kualitas kilauan, corak yang ada didalam batu tersebut, dan pendaran cahaya yang dipantulkan. Selain batu lumuik, daerah tepi sungai Batanghari sebenarnya masih memiliki beberapa jenis batu cincin lain, yang dibedakan berdasarkan warna. Batu-batu tersebut diantaranya adalah jenis "limau manih" ( jeruk manis ) , yang berwarna kuning menyala, ada pula "cempaka limau manih" , yang berwarna kemerahan, dan "kecubung sumatera" yang berwarna ungu. Meskipun demikian , yang menjadi incaran nomor satu dari Dharmasraya adalah batu Lumuik. Batu Lumuik telah menjadi kebanggan masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Dharmasraya. Batu Lumuik Sungai Dareh pun telah menjadi merk dagang yang terdaftar sebagai produk kerajinan resmi asal Dharmasraya. Sumber : Majalah IGS Edisi Januari 2014
ARTIKEL
Dulu Giok Kandhi, Kini Terkenal Lumut Sungai Dareh

Dulu Giok Kandhi, Kini Terkenal Lumut Sungai Dareh

Popularitas batu lumut Sungai Dareh, Kabupaten Dharmasraya yang disebut juga sebagai Giok Sumatera terus meroket. Selain disebabkan keindahannya, kepopuleran batu lumut Sungai Dareh secara tidak langsung juga dipengaruhi.

Batu berwarna hijau lumut telah booming di dunia, apalagi kabarnya Presiden SBY memberikan cinderamata kepada Presiden Obama dengan Batu warna hijau itu. Lumut Sungai Dareh namanya sangat mendunia, tidak ada orang penggila batu tak tergila-gila mendapatkannya.
Fenomenal, tapi bagaimana asal muasal dari Lumut Sungai Dareh itu, 1970 batu itu sudah ditemui dan disebut orang di Solok Selatan sebagai Giok Kandi, dia didapat di Sungai Kandi, dan Bukit Puti Bungsu. Mungkin karena patahan dibawa arus sungai batu itu ditemukan pula di Sungai Dareh Dharmasraya. Karena kehebatan Pemerintah Dharmasraya, batu itu pun kini terkenal dan menjadi ikon penggila batu cincin denga Lumut Sungai Dareh. Tapi yakinlah, nama pasaran boleh mengalahkan asal batu ini, tapi lambat tapi pasti Giok Kandi akan mendunia pula.
Giok Sumatera ini telah beredar di pasaran sejak 50 tahun yang lalu. Dalam 5 tahun terakhir , namanya terus naik daun sehingga harga batu yang berasal dari Batanghari itu melambung. Kadangkala stok di pedagang juga kosong.
Terus melejitnya kepopuleran batu lumut sungai dareh ini juga tak lepas dari gencarnya promosi yang dilakukan pemkab Dharmasraya. Promosi itu dilakukan melalui pemberian cendera mata kepada tamu-tamu , mulai tamu dari Lingkungan Sumbar, provinsi lain, dan tamu-tamu dari Pemerintah Pusat dan mempromosikannya melalui pameran. Ditambah lagi karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Mendagri Gamawan Fauzi akhir-akhir ini turut memakai batu Lumut Sungai Dareh Ini di jari mereka sehingga penilaian masyarakat di pasaran naik drastis. Batu Permata atau batu akik merupakan suatu bentuk batu dari hasil kristalisasi dari beberapa mineral didalam perut atau inti bumi.. Dan biasanya batu permata atau batu akik ini mempunyai suatu kelebihan yaitu berupa aura atau Yoni . Sedangkan arti dari Yoni adalah daya metafisis yang terpancar. Yoni yang terdapat pada batu permata atau batu akik memang di anugrahkan oleh ALLAH, agar kita sebagai makhluk yang diciptakannya paling sempurna tidak tergantung pada benda-benda apapun termasuk batu permata atau akik. Karena pada hakikatnya semua kemampuan dan kekuatan berasal dari Allah. Salah satu pengrajin batu akik di pasaraya kota Padang, Bang Naga ( 41 ), di tokonya beberapa hari yang lalu mengisahkan, ia telah 25 tahun menggeluti usaha batu akik dan sekaligus memasarkannya ke berbagai daerah bahkan sampai ke malaysia. Pada acara-acara pergelaran dan pameran Bang Naga juga sering hadir mempromosikan giok sumatera ini. Batu Indah berwarna kehijauan ini menjadi target buruan para pecinta batu akik dari berbagai tempat. Tidak hanya dari dalam negeri, para kolektor batu cincin dari mancanegara pun memburu batu mulia jenis giok ini. Batu Sungai Dareh yang berasal dari Sungai Batanghari ini terkenal sebagai batu perhiasan berkualitas tinggi. Seperti batu perhiasan pada umumnya , batu lumuik merupakan olahan dari batu mentah yang diperoleh dari dasar sungai. Batu mentah ini kemudian dipotong, dibentuk menggunakan gerinda, dan terakhir dihaluskan. Batu yang telah dihaluskan tersebut lalu dipasangkan sebagai batu perhiasan pada cincin, kalung, gelang, dan sebagainya. Kualitas dan harga sebuah batu lumuik sungai dareh ditentukan pada kualitas kilauan, corak yang ada didalam batu tersebut, dan pendaran cahaya yang dipantulkan. Selain batu lumuik, daerah tepi sungai Batanghari sebenarnya masih memiliki beberapa jenis batu cincin lain, yang dibedakan berdasarkan warna. Batu-batu tersebut diantaranya adalah jenis "limau manih" ( jeruk manis ) , yang berwarna kuning menyala, ada pula "cempaka limau manih" , yang berwarna kemerahan, dan "kecubung sumatera" yang berwarna ungu. Meskipun demikian , yang menjadi incaran nomor satu dari Dharmasraya adalah batu Lumuik. Batu Lumuik telah menjadi kebanggan masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Dharmasraya. Batu Lumuik Sungai Dareh pun telah menjadi merk dagang yang terdaftar sebagai produk kerajinan resmi asal Dharmasraya. Sumber : Majalah IGS Edisi Januari 2014
ARTIKEL
Written by: Kerajaan Batu
Kerajaan Batu | Batu Permata | Batu Mulia | Batu Gambar, Updated at: 07.13
DETAIL SPESIFIKASI

King Keladen Chalcedony Golden Supreme, Indonesia Golden Gems

King Keladen Chalcedony Golden Supreme, Indonesia Golden Gems

 

 King Keladen Chalcedony Golden Supreme, Indonesian Golden Gems oleh Mas Picis Rojobrono

Sejarah Batuan Pacitan King Keladen and Queen Ndasar Chalcedony
Mas Picis Rojobrono (Eko Suryo Putro) :
“Penulisan JURNAL sesuai dengan Saran dari Suhu Nugroho Gemologist (SKYLAB) saat saya bertemu dan membicarakan mengenai Batuan Nusantara di Tamini Square saat membawa contoh Specimen Yellow Chalcedony Pacitan.
King Keladen Chalcedony Golden Supreme, Indonesia Golden Gems
Mas Picis Rojobrono
Batuan Pacitan King Keladen and Queen Ndasar Chalcedony
Penemuan bila ditelusuri sekitar 10 Tahun yang lalu informasi dari seorang pengasah batu terkenal Suparjo di Donorojo dan penelusuran dari Widat (Misgi Man) dan seorang Kolektor Batu Pak Pur di Pacitan, Specimen ini diketemukan oleh Mbah Paiman Timbul yaitu salah seorang pelaku dan tokoh batuan senior di Donorojo, Pacitan, Jawa Timur.
King Keladen Chalcedony Golden Supreme, Indonesia Golden Gems
 (pemberian Mbah Paiman Timbul kepada saya)

Namun penamaannya King Keladen dan Queen Ndasar bagi specimen lokal Yellow Chalcedony dan beberapa varian Chalcedony yang ditambang dari Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur, Indonesia ialah datang dari keinginan saya ingin menyelami dan berupaya memberikan perspektif yang sedikit ilmiah atau terstruktur.

Hal ini bermula pada saat April 2013, datang ke Pacitan dalam liburan bulan madu saya bertemu dengan Widat (Misgi Man) dan diberikan sebuah sample specimen yang ditambang dari Bukit Ndasar Pacitan. Namun dalam pertemuan itu Widat salah menginformasikan temuan tersebut dan menyebut batu yang diberikan berasal dari Sungai Keladen. Sungai Keladen sendiri mengalir melintasi 5 wilayah di Punung Pacitan.

Widat mengatakan pada perkembangan sebelumnya dunia batuan Pacitan hanya menyebut specimen Chalcedony dengan nama Siwalan (Kolang-Kaling) dan ini membuat material ini kurang dihargai di Lokal. Padahal Konsumen luar negeri memburu Siwalan Kualitas Kinggi dan berani membayar mahal. Untuk Siwalan Kuning ini belum dilepas ke pasaran masih di protect oleh Komunitas Batuan Pacitan, dan material ini simpenan 10 tahun yang lalu hanya diketemukan 1 bongkah kecil.
Bahkan harga yang murah dan ketidaktahuan pasar dalam menghargai jenis batu ini membuat Eksploitasinya dilakukan secara tidak bermartabat dan membabi-buta.Dalam eksploitasi besar-besaran di jaman dahulu, kini akhirnya sampai pada hasil habisnya cadangan deposit di Pacitan.

Hal ini bisa diketahui, bahwa para perajin Lokal hingga sampai mengais-ngais kembali timbunan sampah sisa-sisa pemotongan dahulu. Kalaupun ada di alamnya sendiri, sangatlah sukar untuk menemukan bahan sebesar jempol tangan. Adapun bila ada ialah simpanan para tokoh batu yang sudah menimbunnya selama 10 tahun sebelumnya. Bahkan ada variant warna masuk ke golongan “sangat-sangat langka”.
Jatuh cinta dengan pemberian kenang-kenangan dari Widat berupa batu dari Bukit Ndasar, saya mengharapkan bisa memiliki lebih banyak batuan tersebut untuk diperkenalkan ke dunia gems lokal khususnya dan internasional umumnya. Adapun specimen yang didapatkan pertama kali memiliki warna yang muda dan bias sinar yang lembut, namun inklusi dalamnya menunjukkan serat yang kasar. Belakangan ciri serat seperti itu diketahui dengan nama fenomena “punggung/cangkang kura-kura”.
Berbekal contoh batuan tersebut, saya menemui tokoh senior batuan Pacitan Mbah Paiman Timbul di Donorojo. Saat menunjukkan contoh specimen tersebut saya mengatakan ingin memperkenalkan jenis specimen ini dan berjanji ingin menyematkan nama khusus pada batuan Pacitan ini dan menghidupkan kembali dunia batu Pacitan yang sedang lesu. Mbah Timbul menyambut baik dan meng-amanah-kan mengeluarkan material simpanannya selama 10 tahun yaitu batu yang didapatnya dari Sungai Keladen yang tidak pernah diketahui beredar secara luas. Bisa dikatakan penemunya ialah Mbah Paiman Timbul. Namun mengenai penamaan Mbah Paiman Timbul menyerahkan kepada saya untuk menamai material simpananya tersebut.

Dahulu 10 tahun sebelumnya ada pengalaman menarik yang diceritakan Widat, dan kemudian ditelusuri dengan pengumpulan informasi dari Arif Putro Lawu juga. Bahwa specimen ini pernah terjual dengan harga 8 juta rupiah di Kalimantan. Bahkan ada sample yang dimiliki Arif dibawa ke Kalimantan dan dikenakan oleh para penambang emas disana. Batu yang berwarna keemasan ini dianggap memiliki energi atau aura hoki (keberuntungan) yang terkenal. Para penambang emas mengatakan jika tidak mengenakan batu ini hasil perburuan emas mereka sering tidak menemui hasil, namun berbeda dengan saat mengenakan, hasil pendulangan emas tradisional mereka bisa mendapatkan emas seberat 22 gram per hari. Bahkan informasi dari Arif menyebutkan pernah ada pengusaha Malaysia yang menginginkan batu ini dan berniat menukarkan 1 Truknya namun penambang emas yang memilikinya menolak, karena batuan ini dianggap sebagai kecintaannya, hoki dan lekat dengan profesinya yang berhubungan dengan Emas.
Ada kebingungan yang terjadi dalam membedakan ciri batuan yang ditambang dari bukit dan sungai. Setelah dibawa ke Jakarta, saya menemui beberapa Lab, dan berusaha mencari perbedaannya. Kemudian didapatkan analisis dari Ridwan assistant Benny Hoo dari BIG Lab Jakarta Gems Center Rawabening menyebut bahwa yang dari Bukit serat atau inklusinya lebih kasar dari serat yang ditambang dari Sungai.

King Keladen Chalcedony Golden Supreme, Indonesia Golden Gems

King Keladen Chalcedony Golden Supreme, Indonesia Golden Gems 

Kemudian Ridwan membeli 5 buah sample dan mengirim 2 buah ke cabang BIG di Surabaya, 1 untuk di cabang Rawabening dan 1 untuk di cabang Gajah Mada Plaza.
1 buah dikirim ke Singapura, kemudian Kantor Pusat BIG Singapura memutuskan untuk mengirim ke Jepang untuk diperiksa lebih lanjut. Hasil pemeriksaan di Jepang, Specimen King Keladen murni Chalcedony dan untuk warna tidak terdapat irradiation. Namun untuk warna “CAN NOT DETERMINE” (tidak dapat ditentukan). Entah mengapa keluar catatan seperti ini. Sehingga dalam pemeriksaannya nanti di BIG bila disertifikatkan/di memo akan keluar catatan *Color can not determine.

Indonesia Golden Gems

Indonesia Golden Gems


Sementara Nugroho Gemologist dari SKY Lab, menyebut:
“Origin Chalcedony (Keladen) yang ditambang dari Pacitan terbagi menjadi 2 buah sumber… tambang di Bukit sebagai tambang Primer dan tambang di Sungai sebagai tambang Sekunder…. “
Bagi Om Nugroho pendiri SKY Lab di Tamini Square, serat yang dari Sungai Lebih bagus… karena sudah bersentuhan dengan Material lain yang terkandung di Sungai sehingga lebih kaya Mineral.
Pada kenyataannya sumber primer dan sekunder sama-sama Langkanya, banyak yang salah mengira dan menggolongkan Queen Ndasar sebagai King Keladen dan penggolongan warnanya.
INSPIRASI:
Pengambilan nama KING (Raja) saya ambil dari Raja Majapahit Bhre Kertabumi Wijaya, ayahanda dari Pangeran Buwono Keling Pendiri Kota Pacitan.
Sementara pengambilan nama QUEEN (Ratu) saya ambil dari Mitos/Legenda Kanjeng Ratu Kidul yang akrab di Pesisir Laut Selatan Jawa yang melekat di kehidupan sehari-hari masyarakat Pacitan.
Pengambilan nama Prince (Pangeran) saya ambil dari Pangeran Buwono Keling pendiri Kota Pacitan, yang melarikan diri dari kejaran pasukan Demak saat Majapahit runtuh. Membuka wilayah Hutan Pacitan menjadi sebuah pemukiman untuk ditinggali.
Pengambilan nama Princess (Putri) berasal dari keindahan warna putih, yang mengingatkan saya kepada Putri Salju (Snow White).

batu keladen pacitan


CIRI Chalcedony Pacitan memiliki 3 ciri
Baik ciri itu dimiliki masing-masing 1, bisa ada 2 dan bisa 3. Misalnya ketiga ciri itu:
1. Motif Punggung Kura-Kura.
2. Klep Seperti Moonstone (main klepnya)
3. Klep seperti Cat’s Eye (ini berupa klep Garis memanjang, ada yang penuh, ada yang tidak penuh dari ujung vertikal ke ujung lainnya)
4. Banyak yang belum mengerti Ciri Keladen yang ke Empat: Keladen memiliki kemampuan menyerap sinar yang baik, hingga susunan lapisan-nya mampu terlihat dengan jelas… dikarenakan reaksi dalam menyerap sinar yang baik ini… maka Keladen memiliki perubahan warna yang drastis, tergantung dari Intensitas Cahaya yang masuk, sehingga menimbulkan Bi-Colour atau Tri Colour Change… (ini dikonfirmasi oleh yang membeli King Keladen Chalcedony – Golden Supreme)

keladen asli

Sekilas dari Foto sangat mirip dengan ciri-ciri yang dimiliki Anggur (Chalcedony) dari Baturaja. Ciri Khusus Deposit Chalcedony Pacitan ialah warnanya lebih lembut, jernih dan tingkat kekristalannya mampu menyerap cahaya yang banyak. Mungkin ada beberapa kesamaan bila dari kedua deposit ini disejajarkan. Saya sendiri tidak menguasai Batuan dari Baturaja dan kemungkinan pendapat subyektif saya bisa salah.
Deposit rata-rata Chalcedony Pacitan dikuasai warna Semu dan yang langka ialah Semu keemasan yang kuat pendaran bias sinarnya, yang saya sebut – Golden Supreme (Emas Tertinggi/Terbaik).

pacitan keladen

KLASIFIKASI Warna, saya membagi tingkatan warna sebagai berikut:
1. Golden Supreme (Emas Tertinggi/Terbaik) untuk warna yang Keemasan (Yellow Chalcedony)
2. Supreme Sunrise (Sinar Mentari Pagi Terbaik) untuk warna Kuning Muda (Light Yellow Chalcedony)
3. Red Baron (Bangsawan Merah) untuk warna Merah Keemasan (Golden Reddish) ditambahkan Watu-Watu Pacitan (Deny Dwi Kristianto) menemukan specimen Chalcedony berwarna merah di Bukit Ndasar dalam pencariannya selama 3 hari.
4. Princess Snow White (Putih Salju/Putri Salju) untuk warna Putih (White Chalcedony) bila berasal dari bukit akan disebut Princess Ndasar Chalcedony – Snow White bila dari sungai akan disebut Princess Keladen Chalcedony – Snow White.
5. Untuk warna-warna lainnya yang semu Kehijauan, Pink, Abu-Abu, Kuning atau semu lainnya, saat disenter/dikenai sinar baru berubah kuning muda. dan lainnya dimasukkan dalam pengklasifikasian warna dengan sebutan bakal Calon Raja yaitu Prince (Pangeran). Kemudian diikuti asal tambang dari bukit Prince Ndasar dan dari sungai Prince Keladen.
6. Supreme Sunset (Matahari Terbenam Terbaik) untuk variant Orangy Yellow Chalcedony.
Penambahan Klasifikasi Red Baron:
Penyebutan Red Baron sendiri berasal dari diskusi saya dengan Deny (Watu-watu Pacitan) dia yang menemukan variant Chalcedony sangat kristal dan sangat menarik sekali, hasil pencariannya dia turun naik mengitari selama 3 hari di Bukit Ndasar. Maka dari perbincangan itu disepakati penamaan yang mewakili warna yang Keemasan namun condong ke Merah (Golden Reddish).
Warna ini sangat berbeda sekali dengan yang beredar di pasaran, di pasaran warna Chalcedony-nya lebih ke warna Cempaka atau Kenanga dan sepengetahuan saya dan Deny, Chalcedony yang berwarna Red Baron belum ada yang representatif di pasaran seperti penggolongan mereka berdua.
Hijau Pacitan masuk ke Klasifikasi Prince:
Warna Hijau Pacitan yang legendaris berusaha dicari kembali oleh Arif Putro Lawu. Pada kenyataannya yang dimaksud Hijau Pacitan (semu Kehijauan) yang dimiliki oleh Arif dan Pambalah Batung Jogja (Subianor) saya masukkan dalam klasifikasi Prince. Baik yang Prince Ndasar maupun Prince Keladen. Walaupun demikian material Prince tersebut sesungguhnya juga masuk kategori langka. Dikarenakan material Hijau Pacitan sudah habis dikarenakan eksploitasi besar-besaran di masa lalu dan biasanya jatuh ke tangan para Kolektor Elit Batuan Nusantara.
Penambahan Klasifikasi Supreme Sunset:
Penyebutan warna atau klasifikasi warna baru ditambahkan saya ialah Supreme Sunset (Matahari Terbenam Terbaik) datang dari diangkatnya variant warna Orangy Yellow Chalcedony oleh Kang Arwan Batuakik yang mendapat batuan dari Bukit Ndasar dari penemunya Sisok di Donorojo.”Beberapa Video dari Variant Specimen Indonesian Yellow Chalcedony


Artikel

Batu Keladen yang kami jual KLIK DISINI!!

King Keladen Chalcedony Golden Supreme, Indonesia Golden Gems

 

 King Keladen Chalcedony Golden Supreme, Indonesian Golden Gems oleh Mas Picis Rojobrono

Sejarah Batuan Pacitan King Keladen and Queen Ndasar Chalcedony
Mas Picis Rojobrono (Eko Suryo Putro) :
“Penulisan JURNAL sesuai dengan Saran dari Suhu Nugroho Gemologist (SKYLAB) saat saya bertemu dan membicarakan mengenai Batuan Nusantara di Tamini Square saat membawa contoh Specimen Yellow Chalcedony Pacitan.
King Keladen Chalcedony Golden Supreme, Indonesia Golden Gems
Mas Picis Rojobrono
Batuan Pacitan King Keladen and Queen Ndasar Chalcedony
Penemuan bila ditelusuri sekitar 10 Tahun yang lalu informasi dari seorang pengasah batu terkenal Suparjo di Donorojo dan penelusuran dari Widat (Misgi Man) dan seorang Kolektor Batu Pak Pur di Pacitan, Specimen ini diketemukan oleh Mbah Paiman Timbul yaitu salah seorang pelaku dan tokoh batuan senior di Donorojo, Pacitan, Jawa Timur.
King Keladen Chalcedony Golden Supreme, Indonesia Golden Gems
 (pemberian Mbah Paiman Timbul kepada saya)

Namun penamaannya King Keladen dan Queen Ndasar bagi specimen lokal Yellow Chalcedony dan beberapa varian Chalcedony yang ditambang dari Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur, Indonesia ialah datang dari keinginan saya ingin menyelami dan berupaya memberikan perspektif yang sedikit ilmiah atau terstruktur.

Hal ini bermula pada saat April 2013, datang ke Pacitan dalam liburan bulan madu saya bertemu dengan Widat (Misgi Man) dan diberikan sebuah sample specimen yang ditambang dari Bukit Ndasar Pacitan. Namun dalam pertemuan itu Widat salah menginformasikan temuan tersebut dan menyebut batu yang diberikan berasal dari Sungai Keladen. Sungai Keladen sendiri mengalir melintasi 5 wilayah di Punung Pacitan.

Widat mengatakan pada perkembangan sebelumnya dunia batuan Pacitan hanya menyebut specimen Chalcedony dengan nama Siwalan (Kolang-Kaling) dan ini membuat material ini kurang dihargai di Lokal. Padahal Konsumen luar negeri memburu Siwalan Kualitas Kinggi dan berani membayar mahal. Untuk Siwalan Kuning ini belum dilepas ke pasaran masih di protect oleh Komunitas Batuan Pacitan, dan material ini simpenan 10 tahun yang lalu hanya diketemukan 1 bongkah kecil.
Bahkan harga yang murah dan ketidaktahuan pasar dalam menghargai jenis batu ini membuat Eksploitasinya dilakukan secara tidak bermartabat dan membabi-buta.Dalam eksploitasi besar-besaran di jaman dahulu, kini akhirnya sampai pada hasil habisnya cadangan deposit di Pacitan.

Hal ini bisa diketahui, bahwa para perajin Lokal hingga sampai mengais-ngais kembali timbunan sampah sisa-sisa pemotongan dahulu. Kalaupun ada di alamnya sendiri, sangatlah sukar untuk menemukan bahan sebesar jempol tangan. Adapun bila ada ialah simpanan para tokoh batu yang sudah menimbunnya selama 10 tahun sebelumnya. Bahkan ada variant warna masuk ke golongan “sangat-sangat langka”.
Jatuh cinta dengan pemberian kenang-kenangan dari Widat berupa batu dari Bukit Ndasar, saya mengharapkan bisa memiliki lebih banyak batuan tersebut untuk diperkenalkan ke dunia gems lokal khususnya dan internasional umumnya. Adapun specimen yang didapatkan pertama kali memiliki warna yang muda dan bias sinar yang lembut, namun inklusi dalamnya menunjukkan serat yang kasar. Belakangan ciri serat seperti itu diketahui dengan nama fenomena “punggung/cangkang kura-kura”.
Berbekal contoh batuan tersebut, saya menemui tokoh senior batuan Pacitan Mbah Paiman Timbul di Donorojo. Saat menunjukkan contoh specimen tersebut saya mengatakan ingin memperkenalkan jenis specimen ini dan berjanji ingin menyematkan nama khusus pada batuan Pacitan ini dan menghidupkan kembali dunia batu Pacitan yang sedang lesu. Mbah Timbul menyambut baik dan meng-amanah-kan mengeluarkan material simpanannya selama 10 tahun yaitu batu yang didapatnya dari Sungai Keladen yang tidak pernah diketahui beredar secara luas. Bisa dikatakan penemunya ialah Mbah Paiman Timbul. Namun mengenai penamaan Mbah Paiman Timbul menyerahkan kepada saya untuk menamai material simpananya tersebut.

Dahulu 10 tahun sebelumnya ada pengalaman menarik yang diceritakan Widat, dan kemudian ditelusuri dengan pengumpulan informasi dari Arif Putro Lawu juga. Bahwa specimen ini pernah terjual dengan harga 8 juta rupiah di Kalimantan. Bahkan ada sample yang dimiliki Arif dibawa ke Kalimantan dan dikenakan oleh para penambang emas disana. Batu yang berwarna keemasan ini dianggap memiliki energi atau aura hoki (keberuntungan) yang terkenal. Para penambang emas mengatakan jika tidak mengenakan batu ini hasil perburuan emas mereka sering tidak menemui hasil, namun berbeda dengan saat mengenakan, hasil pendulangan emas tradisional mereka bisa mendapatkan emas seberat 22 gram per hari. Bahkan informasi dari Arif menyebutkan pernah ada pengusaha Malaysia yang menginginkan batu ini dan berniat menukarkan 1 Truknya namun penambang emas yang memilikinya menolak, karena batuan ini dianggap sebagai kecintaannya, hoki dan lekat dengan profesinya yang berhubungan dengan Emas.
Ada kebingungan yang terjadi dalam membedakan ciri batuan yang ditambang dari bukit dan sungai. Setelah dibawa ke Jakarta, saya menemui beberapa Lab, dan berusaha mencari perbedaannya. Kemudian didapatkan analisis dari Ridwan assistant Benny Hoo dari BIG Lab Jakarta Gems Center Rawabening menyebut bahwa yang dari Bukit serat atau inklusinya lebih kasar dari serat yang ditambang dari Sungai.

King Keladen Chalcedony Golden Supreme, Indonesia Golden Gems

King Keladen Chalcedony Golden Supreme, Indonesia Golden Gems 

Kemudian Ridwan membeli 5 buah sample dan mengirim 2 buah ke cabang BIG di Surabaya, 1 untuk di cabang Rawabening dan 1 untuk di cabang Gajah Mada Plaza.
1 buah dikirim ke Singapura, kemudian Kantor Pusat BIG Singapura memutuskan untuk mengirim ke Jepang untuk diperiksa lebih lanjut. Hasil pemeriksaan di Jepang, Specimen King Keladen murni Chalcedony dan untuk warna tidak terdapat irradiation. Namun untuk warna “CAN NOT DETERMINE” (tidak dapat ditentukan). Entah mengapa keluar catatan seperti ini. Sehingga dalam pemeriksaannya nanti di BIG bila disertifikatkan/di memo akan keluar catatan *Color can not determine.

Indonesia Golden Gems

Indonesia Golden Gems


Sementara Nugroho Gemologist dari SKY Lab, menyebut:
“Origin Chalcedony (Keladen) yang ditambang dari Pacitan terbagi menjadi 2 buah sumber… tambang di Bukit sebagai tambang Primer dan tambang di Sungai sebagai tambang Sekunder…. “
Bagi Om Nugroho pendiri SKY Lab di Tamini Square, serat yang dari Sungai Lebih bagus… karena sudah bersentuhan dengan Material lain yang terkandung di Sungai sehingga lebih kaya Mineral.
Pada kenyataannya sumber primer dan sekunder sama-sama Langkanya, banyak yang salah mengira dan menggolongkan Queen Ndasar sebagai King Keladen dan penggolongan warnanya.
INSPIRASI:
Pengambilan nama KING (Raja) saya ambil dari Raja Majapahit Bhre Kertabumi Wijaya, ayahanda dari Pangeran Buwono Keling Pendiri Kota Pacitan.
Sementara pengambilan nama QUEEN (Ratu) saya ambil dari Mitos/Legenda Kanjeng Ratu Kidul yang akrab di Pesisir Laut Selatan Jawa yang melekat di kehidupan sehari-hari masyarakat Pacitan.
Pengambilan nama Prince (Pangeran) saya ambil dari Pangeran Buwono Keling pendiri Kota Pacitan, yang melarikan diri dari kejaran pasukan Demak saat Majapahit runtuh. Membuka wilayah Hutan Pacitan menjadi sebuah pemukiman untuk ditinggali.
Pengambilan nama Princess (Putri) berasal dari keindahan warna putih, yang mengingatkan saya kepada Putri Salju (Snow White).

batu keladen pacitan


CIRI Chalcedony Pacitan memiliki 3 ciri
Baik ciri itu dimiliki masing-masing 1, bisa ada 2 dan bisa 3. Misalnya ketiga ciri itu:
1. Motif Punggung Kura-Kura.
2. Klep Seperti Moonstone (main klepnya)
3. Klep seperti Cat’s Eye (ini berupa klep Garis memanjang, ada yang penuh, ada yang tidak penuh dari ujung vertikal ke ujung lainnya)
4. Banyak yang belum mengerti Ciri Keladen yang ke Empat: Keladen memiliki kemampuan menyerap sinar yang baik, hingga susunan lapisan-nya mampu terlihat dengan jelas… dikarenakan reaksi dalam menyerap sinar yang baik ini… maka Keladen memiliki perubahan warna yang drastis, tergantung dari Intensitas Cahaya yang masuk, sehingga menimbulkan Bi-Colour atau Tri Colour Change… (ini dikonfirmasi oleh yang membeli King Keladen Chalcedony – Golden Supreme)

keladen asli

Sekilas dari Foto sangat mirip dengan ciri-ciri yang dimiliki Anggur (Chalcedony) dari Baturaja. Ciri Khusus Deposit Chalcedony Pacitan ialah warnanya lebih lembut, jernih dan tingkat kekristalannya mampu menyerap cahaya yang banyak. Mungkin ada beberapa kesamaan bila dari kedua deposit ini disejajarkan. Saya sendiri tidak menguasai Batuan dari Baturaja dan kemungkinan pendapat subyektif saya bisa salah.
Deposit rata-rata Chalcedony Pacitan dikuasai warna Semu dan yang langka ialah Semu keemasan yang kuat pendaran bias sinarnya, yang saya sebut – Golden Supreme (Emas Tertinggi/Terbaik).

pacitan keladen

KLASIFIKASI Warna, saya membagi tingkatan warna sebagai berikut:
1. Golden Supreme (Emas Tertinggi/Terbaik) untuk warna yang Keemasan (Yellow Chalcedony)
2. Supreme Sunrise (Sinar Mentari Pagi Terbaik) untuk warna Kuning Muda (Light Yellow Chalcedony)
3. Red Baron (Bangsawan Merah) untuk warna Merah Keemasan (Golden Reddish) ditambahkan Watu-Watu Pacitan (Deny Dwi Kristianto) menemukan specimen Chalcedony berwarna merah di Bukit Ndasar dalam pencariannya selama 3 hari.
4. Princess Snow White (Putih Salju/Putri Salju) untuk warna Putih (White Chalcedony) bila berasal dari bukit akan disebut Princess Ndasar Chalcedony – Snow White bila dari sungai akan disebut Princess Keladen Chalcedony – Snow White.
5. Untuk warna-warna lainnya yang semu Kehijauan, Pink, Abu-Abu, Kuning atau semu lainnya, saat disenter/dikenai sinar baru berubah kuning muda. dan lainnya dimasukkan dalam pengklasifikasian warna dengan sebutan bakal Calon Raja yaitu Prince (Pangeran). Kemudian diikuti asal tambang dari bukit Prince Ndasar dan dari sungai Prince Keladen.
6. Supreme Sunset (Matahari Terbenam Terbaik) untuk variant Orangy Yellow Chalcedony.
Penambahan Klasifikasi Red Baron:
Penyebutan Red Baron sendiri berasal dari diskusi saya dengan Deny (Watu-watu Pacitan) dia yang menemukan variant Chalcedony sangat kristal dan sangat menarik sekali, hasil pencariannya dia turun naik mengitari selama 3 hari di Bukit Ndasar. Maka dari perbincangan itu disepakati penamaan yang mewakili warna yang Keemasan namun condong ke Merah (Golden Reddish).
Warna ini sangat berbeda sekali dengan yang beredar di pasaran, di pasaran warna Chalcedony-nya lebih ke warna Cempaka atau Kenanga dan sepengetahuan saya dan Deny, Chalcedony yang berwarna Red Baron belum ada yang representatif di pasaran seperti penggolongan mereka berdua.
Hijau Pacitan masuk ke Klasifikasi Prince:
Warna Hijau Pacitan yang legendaris berusaha dicari kembali oleh Arif Putro Lawu. Pada kenyataannya yang dimaksud Hijau Pacitan (semu Kehijauan) yang dimiliki oleh Arif dan Pambalah Batung Jogja (Subianor) saya masukkan dalam klasifikasi Prince. Baik yang Prince Ndasar maupun Prince Keladen. Walaupun demikian material Prince tersebut sesungguhnya juga masuk kategori langka. Dikarenakan material Hijau Pacitan sudah habis dikarenakan eksploitasi besar-besaran di masa lalu dan biasanya jatuh ke tangan para Kolektor Elit Batuan Nusantara.
Penambahan Klasifikasi Supreme Sunset:
Penyebutan warna atau klasifikasi warna baru ditambahkan saya ialah Supreme Sunset (Matahari Terbenam Terbaik) datang dari diangkatnya variant warna Orangy Yellow Chalcedony oleh Kang Arwan Batuakik yang mendapat batuan dari Bukit Ndasar dari penemunya Sisok di Donorojo.”Beberapa Video dari Variant Specimen Indonesian Yellow Chalcedony


Artikel

Batu Keladen yang kami jual KLIK DISINI!!

Written by: Kerajaan Batu
Kerajaan Batu | Batu Permata | Batu Mulia | Batu Gambar, Updated at: 08.14
DETAIL SPESIFIKASI

Batu Permata Menurut Hari Kelahiran

Batu Permata Menurut Hari Kelahiran

MENURUT HITUNGAN SAPTA WARA.
a. Lahir Hari Senin
- umum : biduri bulan amarini, biduri pandan, kristal kuning (ametis cristal) mutiara safir
- senin umanis : kecubung, cempaka, alexandrite
- senin pahing : mirah, gendula, pinus
- senin pon : mirah, biduri bulan
- senin wage : mata kucing, giok
- senin kliwon : garnet, kinyang, asap/air

b.Lahir Hari Selasa
- umum : ametis, beeryl, intan, topas, terutama mirah atau kristal merah
- selasa umanis : aquamarine, biduri bulan, mata kucing
- selasa pahing : garnet, mirah hati
- selasa pon : safir, biduri pandan
- selasa wage : kalimaya, giok
- selasa kliwon : mirah biduri bulan

c. Lahir Hari Rabu
- umum : agate (akik), safir, terutama zambrud, giok (jade), mirah (ruby)
- rabu umanis : mutiara, kecubung air / asap, garnet
- rabu pahing : nila, kalimaya, mirah delima
- rabu pon : kecubung air, mirah gendula, nila
- rabu wage : mirah, kecubung, biduri bulan
- rabu kliwon : mirah gendula, opal/kalimaya

d. Lahir Hari Kamis
- umum : intan, ametis (kecubung kasian) ,peros, kalimaya, terutama batu mirah dan safir berbintang 6 atau ster 6
- kamis umanis : mirah  gendula, pirus, cempaka
- kamis pahing : biduri bulan, mirah siam, kecubung
- kamis pon : mirah gendula, kalimaya
- kamis wage : garnrt, mirah hati, kecubung kasian
- kamis kliwon : biduri pandan, nila,kalimaya

e. Lahir Hari Jum'at
- umum : kristal hijau muda, giok hijau tua, utamanya safir berbintang bintar dan zambrud
- jumat umanis : mirah delima, biduri bulan, kecubung
- jumat pahing : mirah gendula, mirah hati, aquamarine
- jumat pon : pirus, Cempaka
- jumat wage : biduri pandan, zambrud
- jumat kliwon : mirah delima, biduri bulan, mirah siam

f. Lahir Hari Sabtu
- umum : peros, amethys, kristal akik, utamanya safir, topas, mirah
- sabtu umanis : mirah delima , nila
- sabtu pahing : kecubung, biduri bulan, mirah siam
- sabtu pon : nila ,biduri pandan, kalimaya
- sabtu wage : pirus, cempaka kuning, mirah gendula
- sabtu kliwon : kecubung, biduri bulan, mirah siam

g. Lahir Hari Minggu
- umum : topas, mirah, intan, utamanya intan, safir putih, topas kuning
- minggu umanis : zambrud, biduri bulan, / pandan, safir
- minggu pahing ; kecubung, nila, mirah delima
- minggu pon : nila biduri pandan, kalimaya
- minggu wage : kecubung, yakut/cempaka
- minggu kliwon : pirus cempaka kecubung

Add Pin BBm 75CCFD1E

ARTIKEL
Batu Permata Menurut Hari Kelahiran

MENURUT HITUNGAN SAPTA WARA.
a. Lahir Hari Senin
- umum : biduri bulan amarini, biduri pandan, kristal kuning (ametis cristal) mutiara safir
- senin umanis : kecubung, cempaka, alexandrite
- senin pahing : mirah, gendula, pinus
- senin pon : mirah, biduri bulan
- senin wage : mata kucing, giok
- senin kliwon : garnet, kinyang, asap/air

b.Lahir Hari Selasa
- umum : ametis, beeryl, intan, topas, terutama mirah atau kristal merah
- selasa umanis : aquamarine, biduri bulan, mata kucing
- selasa pahing : garnet, mirah hati
- selasa pon : safir, biduri pandan
- selasa wage : kalimaya, giok
- selasa kliwon : mirah biduri bulan

c. Lahir Hari Rabu
- umum : agate (akik), safir, terutama zambrud, giok (jade), mirah (ruby)
- rabu umanis : mutiara, kecubung air / asap, garnet
- rabu pahing : nila, kalimaya, mirah delima
- rabu pon : kecubung air, mirah gendula, nila
- rabu wage : mirah, kecubung, biduri bulan
- rabu kliwon : mirah gendula, opal/kalimaya

d. Lahir Hari Kamis
- umum : intan, ametis (kecubung kasian) ,peros, kalimaya, terutama batu mirah dan safir berbintang 6 atau ster 6
- kamis umanis : mirah  gendula, pirus, cempaka
- kamis pahing : biduri bulan, mirah siam, kecubung
- kamis pon : mirah gendula, kalimaya
- kamis wage : garnrt, mirah hati, kecubung kasian
- kamis kliwon : biduri pandan, nila,kalimaya

e. Lahir Hari Jum'at
- umum : kristal hijau muda, giok hijau tua, utamanya safir berbintang bintar dan zambrud
- jumat umanis : mirah delima, biduri bulan, kecubung
- jumat pahing : mirah gendula, mirah hati, aquamarine
- jumat pon : pirus, Cempaka
- jumat wage : biduri pandan, zambrud
- jumat kliwon : mirah delima, biduri bulan, mirah siam

f. Lahir Hari Sabtu
- umum : peros, amethys, kristal akik, utamanya safir, topas, mirah
- sabtu umanis : mirah delima , nila
- sabtu pahing : kecubung, biduri bulan, mirah siam
- sabtu pon : nila ,biduri pandan, kalimaya
- sabtu wage : pirus, cempaka kuning, mirah gendula
- sabtu kliwon : kecubung, biduri bulan, mirah siam

g. Lahir Hari Minggu
- umum : topas, mirah, intan, utamanya intan, safir putih, topas kuning
- minggu umanis : zambrud, biduri bulan, / pandan, safir
- minggu pahing ; kecubung, nila, mirah delima
- minggu pon : nila biduri pandan, kalimaya
- minggu wage : kecubung, yakut/cempaka
- minggu kliwon : pirus cempaka kecubung

Add Pin BBm 75CCFD1E

ARTIKEL
Written by: Kerajaan Batu
Kerajaan Batu | Batu Permata | Batu Mulia | Batu Gambar, Updated at: 05.17
DETAIL SPESIFIKASI
 
Copyright © 2011. Kerajaan Batu - All Rights Reserved
Template Creating Website by Java Stone Gallery Pin BBM 28B654DC